Perahu Lesung Asmat dari Pengayauan ke Festival Budaya
AGATS, LELEMUKU.COM – Perahu lesung, alat transportasi tradisional Suku Asmat di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan, kini bertransformasi dari sarana pengayauan menjadi ikon festival budaya.
Dahulu, perahu lesung digunakan Suku Asmat dalam tradisi pengayauan. Warga beramai-ramai menuju kampung jauh menggunakan perahu kemudian membantai penghuninya. Perahu lesung dibuat dengan membuat rongga di tengah batang pohon utuh dan terkadang dihiasi ukiran. Perahu ini didayung oleh banyak orang dengan posisi berdiri.
Kini, perahu lesung diangkat dalam berbagai acara budaya untuk melestarikan tradisi. Festival Budaya Asmat dan lomba mendayung antar kampung menjadi ajang memperkenalkan perahu lesung kepada generasi muda.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Asmat, Andreas Maturbongs, menyatakan perahu lesung memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi.
"Kami ingin generasi muda mengenal perahu lesung sebagai warisan leluhur, bukan sebagai alat perang," ujarnya.
Seiring perkembangan zaman, perahu motor lebih banyak digunakan sebagai alat transportasi sehari-hari. Namun, perahu lesung tetap dijaga sebagai simbol identitas Suku Asmat. Geografi Papua Selatan yang berupa rawa dan sungai besar membuat transportasi air sangat penting. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
